virtutorials.blogspot.com is a blog that contains guides and tutorials about network systems and infrastructure for students written in Indonesian

Thursday, March 11, 2021

Menghitung Bandwidth dengan Load Balancing

Ketika Anda menyewa link ISP lebih dari satu, misalnya ISP Majapahit dan ISP Pajajaran dengan bandwidth masingmasing sebesar 50 Mbps. Mungkin Anda berpikir bahwa jaringan internal memiliki bandwidth internet sebesar 100 Mbps. Apakah benar seperti itu? Jawabannya tidak. Kenapa? Berikut adalah penjelasannya.
Ada standar pedoman yang harus dipahami sebagai berikut.

Tabel 4.2 Rumus menghitung bandwidth dengan load balancing.

Untuk menjelaskan analogi penggunaan bandwidth, akan dipaparkan dengan penerapan skenario dua metode load balancing sebagai berikut.

1. Per-Connection Load Balancing

Pada skenario ini, anggap saja router RB-SMK terkoneksi dengan ISP Majapahit dengan bandwidth 20 Mbps dan ISP Pajajaran 20 Mbps. Besaran upstream dan downstream bernilai sama, yaitu 20 Mbps. Anda masih ingat dengan konsep kerja metode per-connection load balancing? Pengiriman paket data dari alamat pengirim ke tujuan akan dikirimkan secara utuh melalui satu link ISP selama koneksi merupakan satu sesi komunikasi.

Dalam skenario ini, komputer dengan IP address 172.16.0.1 sedang mengakses smkbisa.net, oleh router akan dilewatkan melalui ISP Majapahit dengan bandwidth 20 Mbps, bukan 40 Mbps (ingat pedoman 1 + 1 # 2). Selanjutnya, bagaimana jika komputer 172.16.0.1 juga mengakses smkbisa.net? Router dapat mengacak pengiriman paket data, kemudian diarahkan melewati ISP Pajajaran dengan alokasi bandwidth tetap 20 Mbps. Ketika server smkbisa.net dan tkj.net merespons ke klien 172.16.0.1 yang dilewatkan ke masing-masing link ISP router RB-SMK, total bandwidth downstream yang digunakan oleh klien 172.16.0.1 adalah 20 + 20 = 40 Mbps. Dengan metode per-connection load balancing pada router, kondisi ideal atau keseimbangan lalu lintas dapat terwujud jika semakin banyak koneksi.

Gambar 4.6 Downstream dengan per-connection load balancing.

Per Address-Pair Load Balancing

Konsep kerja per address-pair load balancing adalah melewatkan data klien berdasarkan source address dan destination address. Selama alamat asal dan alamat tujuan sama, berapa pun jumlah koneksi yang dilakukan, akan tetap dilewatkan pada link ISP yang sama.

Sebagai contoh, komputer 172.16.0.1 melakukan koneksi sebanyak dua buah menggunakan protokol HTTP dan SSH, akan dilewatkan router melalui ISP Majapahit dengan bandwidth 20 Mbps. Namun, ketika klien yang sama mengakses lebih dari satu kali menuju server tkj.net, oleh router akan dilewatkan melalui /ink ISP Pajajaran dengan bandwidth 20 Mbps. Ketika kedua server yang diakses tersebut merespons dan mengirimkan paket data ke 172.16.0.1, total bandwidth downstream yang digunakan oleh klien adalah 40 Mbps.
Gambar 4.7 Downstream dengan per address-pair load balancing.

Istilah upstream dan downstream akan menjadi topik utama ketika Anda menjadi seorang administrator jaringan. Pada saat Anda mengakses dan me-request data pada sebuah server, Anda akan mengunggah data, proses inilah yang disebut dengan upstream. Sementara itu, respons server terhadap request yang diminta klien dengan mengirimkan kembali data melalui jaringan, disebut dengan downstream.

Pada umumnya, ISP selalu mempunyai perbedaan yang signifikan terhadap perbandingan ukuran upstream dan downstream. Rata-rata nilai upstream sering lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai downstream. Sebagai contoh, ISP A menyewakan bandwidth 100 Mbps, ada kemungkinan bandwidth upstream tidak sampai 20 Mbps, sedangkan downstream dapat mencapai 100 Mbps. Masalah lain yang dapat muncul jika Anda menggunakan beberapa link ISP dan menerapkan sistem load balancing adalah kemungkinan data yang dikirimkan dari server tujuan ke klien tidak kembali melewati jalur ISP yang sama seperti saat pengiriman. Hal ini menyebabkan kualitas koneksi menjadi kurang baik.

No comments:

Post a Comment